Kolom

Perubahan Perilaku Konsumen Indonesia Akibat Tren Dompet Digital

Spread the love

Keberadaan e-wallet atau dompet digital secara otomatis mengubah perilaku konsumen di Indonesia khususnya dalam transaksi sehari-hari. Secara umum, perubahan tersebut memang tertuju pada tren gaya hidup cashless atau non-tunai yang lebih praktis dan cepat.

Perubahan tersebut sekaligus ikut mengubah cara pandang dan cara pikir masyarakat mengenai uang, transaksi hingga prioritas pembelanjaan.

Perubahan Perilaku Konsumen Indonesia Sejak Tren Penggunaan e-Wallet

Ada banyak perubahan perilaku yang dialami oleh konsumen Indonesia yang memang tidak terjadi secara instan. Namun dampak langsungnya sudah bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dari mulai pusat perbelanjaan yang besar hingga warung kecil yang ada di gang sempit sekalipun.

Di bawah ini adalah beberapa perubahan perilaku konsumen Indonesia yang terpantau sejak munculnya e-wallet:

1. Transaksi yang lebih mudah dan cepat

Perubahan perilaku konsumen yang paling terlihat adanya proses pengambilan keputusan pembelian dengan waktu yang lebih singkat dan bersifat spontan. Hal tersebut biasanya dikarenakan hilangnya hambatan waktu dan ruang yang biasanya muncul saat melakukan transaksi jual beli.

Dahulu, konsumen harus terlebih dahulu menyiapkan uang yang cukup atau mengambil uang terlebih dahulu di ATM jika ingin membeli sesuatu. Kini, dengan adanya fitur transfer instan atau sistem pembayaran cashless dengan QRIS memberikan kemudahan pada transaksi yang bisa terjadi hanya dalam hitungan detik saja.

Secara otomatis, transaksi yang serba cepat dan praktis tersebut akan membuat konsumen tak berpikir ulang sebelum mereka memutuskan membeli sesuatu tersebut.

2. Tren gaya hidup cashless

Di era serba digital dan cashless seperti saat ini, konsumen pun lebih jarang membawa uang tunai dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Mereka jauh lebih nyaman dan praktis untuk menggunakan transaksi digital seperti QRIS misalnya yang memudahkan pembayaran dengan e-wallet di berbagai merchant yang ada.

Saat ini, sudah banyak bisnis yang menggunakan sistem pembayaran QRIS dari mulai pusat perbelanjaan besar, bisnis UMKM hingga toko atau warung kecil sekalipun.

3. Tren belanja impulsif

Adanya kemudahan untuk berbelanja hanya dengan satu kali klik tombol atau satu kali pindai barcode menjadikan konsumen jauh lebih rentan untuk melakukan belanja impulsif.

Apalagi banyak bisnis yang menyelenggarakan promo menarik, cashback hingga fitur paylater yang semakin mendorong konsumen untuk berperilaku konsumtif dan melakukan pembelanjaan secara impulsif khususnya di kalangan anak muda.

Baca juga : Meninjau Masa Depan Pulsa di Tengah Maraknya Penggunaan Dompet Digital

4. Tren FOMO dalam berbelanja

Banyak penyedia e-wallet yang gencar memberikan promo, diskon hingga cashback jika konsumen melakukan pembayaran dengan menggunakan e-wallet.

Hal tersebut bukan hanya mengubah preferensi konsumen untuk mencari metode pembayaran dengan penawaran terbaik saja, namun menjadikan mereka tergantung pada beragam promo dan diskon yang diselenggarakan.

Selain itu, e-wallet juga sering menyelenggarakan promosi terbatas yang otomatis menciptakan perilaku FOMO (Fear of Missing Out).

FOMO merupakan sebuah dampak dari trik marketing yang dimiliki sebuah brand, yang menjadikan konsumen akan terburu-buru untuk membeli satu produk yang baru dirilis hanya karena takut kehabisan atau melewatkan promo tersebut.

5. Manajemen keuangan secara langsung

Penggunaan e-wallet akan memudahkan pengguna untuk melakukan pemantauan pada riwayat transaksi belanja secara langsung. Bukan hanya untuk memudahkan perihal pelacakan pengeluaran, namun di sisi yang lain juga untuk memudahkan pengeluaran keuangan yang tak terencana dengan baik.

Diketahui e-wallet mempunyai fitur riwayat transaksi yang lebih mendetail dan terperinci yang menjadikan konsumen mengetahui rincian pembelanjaan mereka.

Berbagai jenis pembelanjaan yang dilakukan akan tercatat secara detail, otomatis dan sistematis sehingga memberikan peluang konsumen untuk bisa mengaudit keuangan mereka secara mandiri di akhir bulan nanti.

Sehingga dampak positifnya adalah konsumen bisa menilai seperti apa gaya hidup mereka sesuai dengan data digital yang disajikan riwayat transaksi e-wallet yang berujung pada kesadaran finansial yang lebih baik.

Itulah beberapa perubahan perilaku konsumen Indonesia yang disebabkan munculnya e-wallet. Namun perubahan itu juga terjadi pada kalangan penjual yang saat ini lebih memilih untuk menerima sistem pembayaran non-tunai dengan e-wallet.

Alasannya adalah untuk bisa bersaing dengan bisnis lainnya karena banyak konsumen yang tak ragu berpindah toko atau penyedia jasa jika metode pembayaran digital tak tersedia.

Selain itu, penggunaan e-wallet juga bisa menghindarkan risiko penggunaan uang palsu dan kendala akan kesulitan mencari uang kembalian yang dibutuhkan.

Perubahan perilaku yang dialami penjual tersebut akhirnya akan memaksa konsumen yang masih menggunakan uang tunai, selanjutnya akan beradaptasi untuk mewujudkan terciptanya lingkungan ekonomi cashless.

Kesimpulan

Adanya perubahan perilaku konsumen karena penggunaan e-wallet memang menjadi satu bukti nyata bahwa teknologi canggih bisa mengubah budaya atau tradisi masyarakat hanya dalam waktu singkat saja.

Saat ini, kita hidup di era yang mana kecepatan, kenyamanan dan transparansi merupakan satu ekspektasi standar yang dimiliki konsumen dalam setiap transaksi jual beli yang dilakukan.

Perubahan perilaku konsumen bukan hanya tentang bagaimana cara kita melakukan pembayaran saja, namun juga tentang bagaimana kita sebagai konsumen menghargai nilai serta efisiensinya dalam kehidupan.

Bagaimana? Apakah Anda merasa jauh lebih hemat atau justru lebih boros sejak menggunakan e-wallet? Perbarui terus informasi mendalam tentang tren ekonomi digital dan perilaku pasar terkini hanya di SELA-SHEFFIELD.ORG.

Frequently Asked Questions

Apa saja perubahan perilaku konsumen di Indonesia yang diakibatkan era digital marketing?

Ada beberapa perilaku konsumen yang umum terjadi di era digital seperti saat ini yaitu: konsumen lebih suka transaksi online dengan mengandalkan review, lebih menyukai transaksi yang gampang dan memilih apa yang sesuai dengan dirinya.

E-wallet atau dompet digital di Indonesia muncul pada tahun berapa?

Di Indonesia, e-wallet atau dompet digital diketahui mulai muncul pada tahun 2007 melalui layanan T-Cash Telkomsel dan XL Tunai. Namun e-wallet mulai tren digunakan setelah munculnya GoPay yang diikuti OVO, DANA, LinkAja dan lainnya.

Apa saja bentuk dompet digital yang populer digunakan di Indonesia?

Beberapa bentuk dompet digital yang populer di Indonesia diantaranya adalah OVO, DANA, GoPay, ShopeePay dan LinkAja.

Apa saja kekurangan dari penggunaan dompet digital?

Kekurangan yang utama dari penggunaan dompet digital diantaranya adalah meliputi risiko keamanan siber, ketergantungan penggunaan listrik dan internet, biaya administrasi dan batasan jangkauan merchant.